Lompat ke isi utama

Berita

Diam Itu Berbahaya: Reika Ajak Generasi Muda Aktif Kawal Demokrasi

Diam Itu Berbahaya: Reika Ajak Generasi Muda Aktif Kawal Demokrasi

Gianyar - Demokrasi yang berintegritas tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari kesadaran dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Hal inilah yang ditegaskan oleh Anggota Bawaslu Kabupaten Gianyar, Ni Luh Putu Reika Chrisyanti, saat memberikan sosialisasi kepada Finalis Jegeg Bagus Duta Pariwisata Kabupaten Gianyar Tahun 2026, Jumat (10/4/2026), bertempat di Ruang Rapat Dinas Pariwisata, Puspem Gianyar Gedung A Lantai 2.

Dalam suasana yang interaktif dan penuh antusiasme, Reika mengajak para finalis yang merupakan representasi generasi muda dan duta perubahan untuk memahami pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kualitas demokrasi. Ia menekankan bahwa demokrasi bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga negara.

“Demokrasi yang berintegritas tercipta dari partisipasi kita semua, bukan hanya dari penyelenggara pemilu. Peran aktif masyarakat, termasuk generasi muda seperti adik-adik Jegeg Bagus, sangat menentukan arah dan kualitas demokrasi ke depan,” tegas Reika.

Dalam pemaparannya, Reika juga memperkenalkan lebih jauh tentang lembaga Bawaslu, mulai dari fungsi, tugas, hingga kewenangannya dalam mengawasi jalannya proses demokrasi. Ia menjelaskan bahwa Bawaslu tidak hanya bekerja saat tahapan pemilu berlangsung, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran demokrasi secara berkelanjutan.

“Meskipun saat ini tidak ada tahapan pemilu maupun pemilihan, bukan berarti Bawaslu berhenti bekerja. Justru di masa inilah kami terus bergerak aktif membangun pengawasan partisipatif, memperkuat literasi demokrasi, serta menanamkan nilai-nilai integritas kepada masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Reika menekankan bahwa pengawasan partisipatif menjadi salah satu kunci utama dalam menciptakan pemilu yang jujur dan adil. Menurutnya, ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk ikut mengawasi, maka potensi pelanggaran dapat diminimalisir sejak dini.

“Pengawasan tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk besar. Dimulai dari hal kecil, seperti tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, berani menyampaikan kebenaran, hingga mengingatkan lingkungan sekitar, itu sudah menjadi bagian dari pengawasan partisipatif,” ungkapnya.

Ia pun mengajak para finalis Jegeg Bagus untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Dengan kapasitas mereka sebagai duta pariwisata, para finalis dinilai memiliki peran strategis dalam menyebarkan pesan-pesan positif, termasuk nilai-nilai demokrasi yang sehat dan berintegritas.

“Mulailah dari diri sendiri, kemudian dari keluarga, dan lingkungan terdekat. Jadilah contoh masyarakat yang sadar demokrasi. Ketika kesadaran itu tumbuh dari bawah, maka demokrasi kita akan semakin kuat dan bermartabat,” imbuh Reika.

Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang demokrasi, tetapi juga menginspirasi para finalis untuk mengambil peran lebih aktif sebagai generasi muda yang peduli terhadap masa depan bangsa. Melalui kolaborasi antara Bawaslu dan generasi muda, diharapkan nilai-nilai demokrasi dapat terus terjaga dan berkembang secara berkelanjutan.

Dengan semangat partisipasi dan kesadaran kolektif, demokrasi yang berintegritas bukan lagi sekadar harapan, melainkan menjadi komitmen bersama yang diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.